Bagian 1: Sebuah Rencana ( Lombok + Rinjani )
Rencana perjalanan ini bermula saat setelah saya dan teman-teman pulang berlibur dari Pulau Karangbongkok, Kepulauan Seribu. Setelah beberapa hari kepulangan dari Karangbongkok, Yogi nyeletuk mengajak mendaki gunung Rinjani. Kaget dong, dimana waktu itu saya pun baru beberapa kali mendaki gunung, ya bisa di bilang newbie. Masih banyak PR yang harus saya benahi dalam hal mendaki. Hati masih ragu, Tapi hasrat mendaki Rinjani sangat menggebu-gebu. Bagaimana tidak, gunung dengan ketinggian 3726 Mdpl itu adalah gunung berapi tertinggi ke 2 setelah Gunung Kerinci. Dengan keindahannya membuat Rinjani menjadi salah satu gunung favorit bagi pendaki. Dan alasan lain yang membuat saya ikut adalah karena saya ingin menunjukan bahwa saya bisa dan mampu untuk mendalami kegiatan outdoor ini, yaitu mendaki.
Malam itu, di bulan Januari 2015 berdiskusi panjang sampai akhirnya di putuskan untuk mendaki Gunung Rinjani. Bulan yang dipilih di Desember tanggal 5.
Oh iya, karena di tahun dan bulan itu saya belum bekerja dan beberapa teman lain ada yang sedang kuliah. Kami merencanakan untuk menabung setiap bulannya sebesar 200.000,- Dimulai dari bulan Februari. Jadi total biaya pulang pergi Jakarta-Lombok sebesar 2.200.000/orang. Itu biaya yang sudah kami hitung se-detail mungkin. Mulai dari tiket kereta, pesawat, angkot, logistik dan lain-lain. Dan yang berperan besar dalam hitung-menghitung biaya perjalanan ini adalah Yogi Gustaman. Soal biaya dan itinerary, kami serahkan sama Yogi. Karena melesetnya tuh tidak jauh, ya meleset sedikit wajar lah ya.
Oh saya sampai lupa. Kami dari Jakarta berlima; Saya, Rahmat, Rizky, Tomy, dan Yogi. Hanya saja Yogi seminggu sebelum tanggal 5 Desember, dia terlebih dulu berangkat untuk explore ke Indonesia timur. Labuan Bajo, Waerebo. Ya pokoknya ke NTT lah. Dan tak lupa teman kami Azry anak Lombok yang sebelumnya saling kontak dengan Tomy untuk menanyakan terkait status Rinjani bisa di daki atau tidak. Sebab pada waktu itu Gunung Barujari sedang erupsi.
4 bulan berlalu uang tabungan saya sudah terkumpul 800.000,- Tapi masalah datang ketika saya sudah terlanjur membuat agenda ke Pulau Tidung tapi uang saya tidak cukup untuk pergi ke sana. Alhasil uang yang sudah terkumpul selama 4 bulan saya pakai untuk ke Pulau Tidung. Maklum saja, dulu saya belum bekerja, masih pengacara ( Pengangguran banyak acara ) hehehe. Akhirnya saya minta uang yang ada di Yogi untuk saya pakai terlebih dahulu. Awal nya Yogi menahan untuk tidak memakai uang tersebut. Mungkin takut saya batal pergi bersama mereka. Tapi saya yakinkan akan tetap berangkat sesuai rencana awal. Dan alhamdulillah dikasih.
Setelah pulang berlibur dari Pulau Tidung, saya selalu kepikiran 'bagaimana kalau saya tidak dapat uang untuk ke Lombok?' atau 'bagaimana kalau tidak di ajak dengan mereka lagi saat berlibur?'.
Tak boleh berlama-lama bergelut dengan rasa menyesal karena memakai uang tersebut. Saya memutuskan untuk mencari kerja bersama Rizky. Dan kebetulan, di dekat rumah saya daerah Tebet ada sebuah restoran khas Makassar yang membuka lowongan kerja. Mereka membutuhkan Admin, Pelayan, Chef, dan beberapa posisi yang saya tidak ingat. Lalu saya dan Rizky menaruh lamaran di sana dan malamnya di telfon untuk interview esok pagi pukul 9. Singkat cerita, saya ke terima, Rizky tidak.
Di awal saya masuk kerja, saya sudah merencanakan untuk resign di akhir November. Tak tahu diri memang, cari kerja susah malah membuang-buang peluang, ucap saya dalam hati. Padahal di bulan ke 4 saya bekerja atau dimana bulan saya mengajukan resign, saya di tawarkan naik jabatan sebagai Supervisor, yang sebelumnya Pelayan & Kasir. Tapi saya tolak, dengan alasan saya ada event di Lombok dengan bayaran mahal. Nyatanya saya tak dapat uang, malah mengeluarkan uang untuk berpergian. Hahahaa
Setelah resign dan uang pun terkumpul. Saya cukup senang karena bisa terbebas dari kerjaan yang jam kerjanya benar-benar melelahkan dan tentu saja saya tidak sabar untuk memulai sebuah perjalanan yang sudah lama ditunggu-tunggu.
Saat saya sibuk dengan kerjaan, tiket sudah di beli oleh Yogi. Karena Yogi lah yang mengatur pembelian tiket kereta maupun pesawat. Kami berempat pergi dengan kereta api.
Di tanggal 5 Desember, Sabtu pagi. Kami dengan gagahnya berangkat membawa cerrier masing-masing. Saya membawa cerrier 60L Cozmeed, Rizky 60L Royal Mountain, Tomy 60L Eiger, dan Rahmat 60L Arei. Dengan pertimbangan yang cukup, kami memutuskan membawa cerrier semua. Karena kami tahu perjalanan ini cukup panjang, yaitu selama 2 minggu.
Kami berangkat dari Cibubur dengan taksi menuju Pasar Senen, Jakarta.
Sesampainya di Pasar Senen. Kami mencetak tiket, lalu membeli cemilan dan memasuki peron. Seperti biasa, saat memasuki peron di haruskan mengantri dan menyiapkan KTP + Tiket. Ketika sudah diperiksa kami langsung menuju kereta dan mencari nomor kursi.
Saatnya menyetel musik dan menikmati perjalanan yang cukup panjang menuju Stasiun Gubeng, Surabaya.
Bersambung...



Wow baguss, ku ingin kesana tapi apadaya dudud
ReplyDeleteKumpulin uang dari sekarang. Pandemik selesai, langsung berangkat!
Delete