Pendakian Mistis Gunung Gede Pangrango (2/2)
Letih dan capek saya rasakan ketika sampai di Panca Leuweuh ( Air Terjun Kecil ) dan tempat ini teman saya Rizky juga mengalami terkilir di kaki bagian kiri. Saya kaki kanan dan dia kaki kiri, lengkap penderitaan kami saat itu. Tetapi kami berdua tetap terus berjalan.
Setelah beberapa jam kita jalan melewati pos Kandang Batu, Air Panas dan Pondok Pemandangan. Akhirnya sampai di Batu Kukus 3, saya dan Rizky istirahat sebentar sekitar 2-5 menit abis itu turun lagi.
Nah di pertengahan saat turun dari Batu Kukus 3 ke Batu kukus 2 Rizky minta berhenti untuk mengatur nafas dan minum setenggak air. Itu sekitar jam setengah 4 sore masih jauh untuk sampai ke basecamp. Saat Rizky minum, saya menoleh ke arah kiri, saya melihat pendaki lagi buang air kecil dengan ceril warna hitam masih terpasang di pundaknya.
![]() |
| Peta Jalur Cibodas |
Saya tidak begitu percaya ada pendaki yang berani turun ke spot dia buang air kecil itu karena agak sedikit curam. Saya tegaskan lagi penglihatan saya dan benar, sosok tersebut bukan pendaki melaikan sosok semacam genderuwo yang besar menjulang tinggi.
Yup saya masih penasaran dengan sosok tersebut akhirnya saya memberanikan diri melangkahkan beberapa langkah dengan kepala saya agak di kedepankan agar terlihat jelas. Hasil tetap sama, itu bener genderuwo. Saya cuma bisa telan ludah dan mengajak Rizky untuk melanjutkan perjalanan.
Saya bilang ke Rizky di saat sudah jauh dari tempat itu kalau saya melihat sosok yang tinggi besar menyerupai Genderuwo. Saya dan Rizky pun panik ingin cepat cepat sampai, ya maklum karena ini pendakian kedua saya dengan Rizky. Minim pengalaman.
Batu Kukus 2 dan 1 sudah kami lewatkan. Kami menuju Rawa Denok 1 dengan harapan tidak melihat sosok sosok seperti tadi karena hari sudah semakin gelap. Rawa Denok 1 sudah lewat, Rawa Denok 2 pun sudah lewat akhirnya tiba di Rawa Panyangcangan atau lebih di kenalnya pertigaan Cibeureum.
Saat sampai di Rawa Panyangcangan saya dan Rizky beristirahat agak lama karena kaki saya tidak bisa di paksa berjalan terus. Waktu sudah menunjukan pukul 17.30, yang sebentar lagi sudah memasuki Adzan Maghrib. Jam setengah 6 sore kami jalan menuju Telaga Biru.
Di pertengahan menuju Telaga Biru kita berhenti karena Adzan Maghrib. Gelap sudah turun, headlamp kami siapkan.
Flashback sebentar, yang bikin saya takut melewati jalur Cibeureum menuju Telaga Biru adalah cerita sahabat saya kalau di sepanjang jalur yang saya lewatin ini, dia ( sahabat saya ) pernah melihat kuntilanak. Otomatis mindset saya di penuhi rasa takut yang sangat besar.
Balik lagi ke cerita. 5 menit setelah saya dan Rizky melanjutkan perjalanan saya bersyukur alhamdulillah karena di belakang saya ada suara pendaki sedang berjalan. Suaranya sepatu pendaki cukup dekat dan jelas. Senenglah rasa takut sedikit menghilang karena bisa bareng dengan pendaki yang ada di belakang saya.
Saya dan Rizky tetap jalan pelan karena kami berdua sudah capek ditambah kaki kami berdua terkilir. Tapi kami berdua merasa aneh, pendaki yang ada di belakang tidak melewati saya dan Rizky, padahal saya dan Rizky jalannya pelan dan seharusnya pendaki tersebut menyalip saya dan Rizky, tapi ini tidak.
Sampai akhirnya saya memberanikan diri untuk menengok ke belakang dan ternyata di belakang SEPI, there was no mountaineer behind us. Makin deg deg-an dengan situasi yang mencekam banget menurut saya. Gimana tidak, berharap ada seorang pendaki tapi nyatanya tidak ada. Fix ini di kerjain setan lagi!
Jalan saya cepatkan agar cepat sampai di basecamp. Sudah merasa bodo amat dengan rasa sakit di kaki, yang penting sampai. Di Sepanjang jalan istighfar terus menerus sampai akhirnya tiba di basecamp. Alhamdulillah dalam hati.
FYI, perjalanan turun yang seharusnya 4 sampai 5 jam sudah tiba di basecamp, saya dan Rizky butuh waktu 9 jam untuk sampai di basecamp.
Tapi alhamdulillah saya dan 3 teman lainnya selamat tanpa harus minta bantuan siapapun.
Dari sini pendakian kedua ini saya belajar kalau mengucap salam saat kita masuk kawasan gunung itu wajib, jaga omongan, tidak berisik, tidak menyetel lagu, tidak mendirikan tenda sesuai tempat itu semua wajib di jaga saat melakukan pendakian di gunung manapun.
Kita ini tamu, tidak boleh berisik, harus jaga omongan, dan harus mengikuti rules dari pihak tuan rumah. Ketika rules kalian langgar, wasalam aja, nyasar, kesurupan dan hal lain yang tidak di inginkan bakal terjadi.
So, keep safety di setiap pendakian kalian!



Comments
Post a Comment