Rindu Rumah Kedua


Sudah 3 tahun saya ingin kembali ke Pangrango untuk merebahkan badan saya di Lembah Mandalawangi. Alhamdulillah awal november kemarin saya benar benar kembali ke rumah. Ya pangrango adalah rumah kedua saya ketika saya butuh untuk menenangkan pikiran dan mendamaikan hati.

Saya begitu amat senang ketika akan mendaki Pangrango. Jatuh cinta mungkin kalimat yang tepat untuk perasaan saya kepada pangrango.

Bagaimana tidak, setelah melewati persimpangan camp area Kandang Badak. Saya di suguhi pohon pohon yang sangat rapat, dan sesekali saya harus merangkak atau melompat batang pohon yang besar agar terus bisa malanjutkan perjalanan.

Belum lagi tanjakan yang bikin kaki ingin berhenti, pikiran yang salalu bilang ” berhenti saja”, dan jantung yang terus berdebar debar. Rasa ingin berhenti ada, tapi selalu di kuatkan dengan hati.
Ini adalah hobi saya, buat apa mendaki jika rintangan ini tak bisa saya lewati. Begitu kira kira yang selalu saya ucapkan dalam hati agar saya tak pantang menyerah.

Ini adalah hobi saya, buat apa mendaki jika rintangan ini tak bisa saya lewati. Begitu kira kira yang selalu saya ucapkan dalam hati agar saya tak pantang menyerah.

Sepanjang jalan kadang saya merasakan bagaimana berjalan sendiri di tengahnya hutan rimba. Rasa senang pasti ada, karena saya dapat kesunyian yang tidak saya dapatkan di kota dan juga saya di temani suara hewan melata, terbang, merayap dan hingga berjalan. Dan rasa khawatir pun ada, karena tidak menutup kemungkinan saya akan bertemu dengan hewan buas yang sewaktu waktu menerkam saya, entah dari belakang, samping kanan, kiri, bahkan dari depan. Intinya jika mati disana, saya ikhlas.

Tapi saya yakin pangrango dan penghuninya tak sejahat itu dengan saya. Dia tahu kalau ada manusia yang sangat cinta dengannya, cinta dengan alamnya, cinta dengan hewannya, dan cinta dengan tumbuhannya.

“Perlakukan gunung layaknya rumah kamu sendiri, saya yakin mereka akan menerima kamu dengan senang hati.”

Sudah dulu, saya sudah sampai Mandalawangi. Saya ingin merebahkan badan di dalam kabutnya Mandalawangi.

Comments

Popular Posts